Makan siang hari ini telah diniatkan untuk bersama dengan rekan-rekan sekerja.
Berfikir tentang kelahiran: berjarak, meski telah menyaksikan.
Belajar tentang kelahiran: bagaimana, wong tidak merasakan.
Berbagi tentang kelahiran: 3 cerita yang berbeda.
Berbebas tentang kelahiran: penghargaan pada perempuan terdekat: ibu dan istriku.
@ INA – 220307 – 3.01 pm
Kilas Balik.01
Ini foto bersama terakhir kawan-kawan kursus Food Industry and Agribusiness di Wageningen International, sebelum pisah, bubaran, pulang ke negara masing-masing.
Selalu saja, seusai momen bersama, energi untuk berbagi kemudian jatuh peringkatnya dalam urutan prioritas.
Kesibukan kegiatan dan kerja utama menggantikannya.
beruntung masih ada rantai penghubung lewat mailing list.
@ INA – 220307 – 1.55 pm
Frase ini menggema terus.
Memunculkan kepenasaran yang akut. Beberapa situs sudah disinggahi. Pijar-pijarnya sudah mencerahkan sebagian sel kelabuku.
Ini salah satu definisi pendek VC, maaf masih dalam bahasa Inggris agar “rasa” masih terasa:
“a value chain is a string of companies or collaborating players who work together to satisfy market demands for specific products or services”
Kenapa harus memikir ulang konsep rantai nilai tradisional yang selama ini berlaku? Ini salah satu alasannya:
“In creating integrated supply chains, companies must re-think how they view their customers and suppliers. They must concentrate not just on maximizing their own profits, but also on how to maximize the success of all organizations in the supply chain. Strategic priorities must consider other key alliance partners that contribute value for the end customer. tactical and operational plans should be continuosly shared and coordinated. Instead of encouraging companies to hold their information close, trust-building processes promote the sharing of all forms of information possible that will allow supply chain members to make better decisions. Whereas traditional accounting, measurement, and reward system tend to focus on individual organizations, a unified set of supply chain performance metrics should be utilized as well. Finally, instead of “pushing products” into the supply channel, thereby creating excess inventories and inefficient use of resources, consultative sales processes and “pull” system should be utilized”
@ina-220307

Akhir pekan pertama. Kenalan lebih jauh budaya Dutch. Apa lagi yang lebih tepat kecuali kenalan lewat makanan.
Dari yang tawar, manis, hingga gak karuan rasa di lidah Indonesia.
@ wag – 29 Oct 2006 – 22:41

24 peserta dari 17 negara yang berbeda dipertemukan dan disambungkan dalam wacana berbagi oleh seorang pakar dari negara yang lain juga. Hari ketiga kursus terasa (masih) menjanjikan dan menggembirakan.
@ Wag – 29 Oct 2006 – 22:14

Usianya nyaris 70 tahun. Alur papar, bahasa tubuh, kecermatan logika samasekali menampilkan performa yang menyangsikannya. Simon Schouten trengginas mengupas seluk beluk teknologi pasca panen untuk komoditas hortikultura: sayur; bunga; buah dengan contoh kasus riset intensif ataupun pengalaman empiris, salah satunya sebagai pakar sukarelawan lewat program PUM.
Walhasil aku setidaknya jadi akrab dengan istilah teknis macam “keepability”, “ULO” (Ultra Low Oxygen, bukan ulo – ular), Controlled Atmosphere dan sekian taburan singkatan.
@ Wag – 29 Oct 2006 – 00:16

Hari kedua ada seminar di tempat lain masih dalam lingkung Wageningen University. Seminar tentang sudut pandang antropologi dalam melihat transisi perubahan komoditas dan interrelasi di dalam komunitas Indian Maya di sebuah kota kecil Guatemala. Judulnya provokatif:
“Broccoli and Desire: Markets and Moralities in the Maya Highlands”.
Di stasiun bis menuju lokasi, interrelasi lain pun mulai. Sekian peserta dengan latar berbeda menjadi mosaik di gambar ini. Masing-masing dari 1 negara yang berbeda, dipertemukan Tuhan dalam acara yang sama, melalui tangan yang tak sama, untuk memuali perjalanan pemahaman.
@Wag – 28 Oct 2006 – 23:48
Hari pertama kursus tiap orang diambil fotonya. Salah satunya untuk sumber sertifikat nanti. Buatku, penting menyambangi satu persatu secara personal, menyalami mereka dan mengenalkan diri serta, belajar dari orang Jepang, berbagi kartu nama. Alasan pertama agar tidak salah sebut nama dan yang lain agar ada acuan tertulis untuk komunikasi selanjutnya. Mendengar nama saja 80% membawa kesalahan dan yang jelas kelupaan.
Tapi di hari kedua, ada satu cara partisipatif, dan baru buatku, yang diperkenalkan oleh koordinator kursus agar satu sama lain saling tahu dan kenal.
Kami dipasangkan dengan kawan duduk sebelah untuk saling mengabstraksi 4 hal: gambar wajah dan asal negara, nama dan artinya, hal yang dilakukan seusai waktu kerja dan hal penting lain tentang diri yang perlu diketahui orang lain.
Hasilnya?
Tidak terlalu mengecewakan, bahkan beberapa punya bakat seni terpendam.
@Wag-28 Oct 2006